Paraplegia

Posted on

Paraplegia adalah kelumpuhan pada kedua anggota gerak bawah tubuh atau kedua belah kaki yang disebabkan karena cedera parah pada spinal cord level bawah. Cedera tersebut menyebabkan seluruh impuls dari otak tidak dapat diterima oleh jaringan otot dibawahnya, dan sebaliknya impuls dari bawah level yang rusak tidak dapat diterima oleh otak. Akibatnya penderita paraplegia kehilangan fungsi motorik dan sensorik di bawah area yang rusak, kehilangan kekuatan, menjadi lemah dan layu. Penderita juga kehilangan kemampuan mengendalikan buang air kecil dan buang air besar (blader and bowel control).

Paraplegia banyak terjadi karena kecelakaan dan penyakit. Penulis sendiri merupakan salah satu penderita paraplegia sejak tahun 2009 karena tb tulang atau spondilitys TB. Kondisi paraplegia pun berbeda beda. Diantaranya ada yang merasakan sakit seperti terbakar, ditusuk tusuk atau terikat seperti yang penulis alami dan rasakan.  Namun ada juga penderita paraplegia yang tidak merasakan sakit sperti yang penulis alami.

Penyakit yang paling sering mengintai penderita paraplegia adalah decubitus (luka tekan di bagian pantat, pinggang atau punggung) hal dikarena duduk terlalu lama. Pada kasus yang sering terjadi, luka tekan ini susah disembuhkan dan jika sudah sembuh mudah sekali muncul jika si penderita kurang memperhatikan kondisinya.

Selain decubitus karena terjadi gangguan saat buang air kecil, kencing batu juga menjadi masalah tersendiri bagi para penderita paraplegia.  Infeksi juga muncul jika si penderita sering menggunakan kateter yang tidak menjaga sterilitasnya.

Hal yang perlu diketahui oleh masyarakat luas adalah bahwa cidera tulang belakang yang menyebabkan seseorang menjadi paraplegia belum ada obatnya. Penulis sempat berkonsultasi dengan seorang dokter rehabilitasi medik dan dokter syaraf karena sakit yang penulis alami. Namun dijawab bahwa sakit itu sudah menjadi bagian dari hidupmu, sedangkan dari dokter syaraf menyatakan sakit itu bisa hilang dihilangkan sama sekali namun fungsi-fungsi bagian bawah seperti alat repoduksi yang sekarang masih sedikit berfungsi tidak akan berfungsi sama sekali.  Akhirnya saya memilih bersabar dengan rasa sakit.

Saat ini penulis sedang mengikuti terapi stemcell dari RSCM sejak taggal 29 November 2016. Belum banyak yang diharapkan dari terapi ini, namun penulis berharap akan mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Perubahan yang penulis alami adalah pada jari kaki yang awalnya hanya bisa merasakan panas (seperti terkena cabe) namun sekarang ketika ditekan pada ruas ruas jari kaki sudah bisa merasakan ada tekanannya.

Saya sebagai penulis sangat berharap penelitian stemcell ini berhasil sesuai dengan yang diharapkan sehingga akan banyak penderita paraplegia yang dapat disembuhkan.

2 thoughts on “Paraplegia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *