Saat Aku Harus Menjadi Seorang Disabilitas Bagian 1.

Posted on

Namaku Sigit asli Kebumen. Saat menulis tulisan ini aku sudah lumpuh kira kira  8 tahun lamanya. Sebelum lumpuh aku bekerja di salah satu perusahaan di Cikarang.  Awalnya aku mengalami sakit pinggang yang bersifat lokal, namun hingga beberapa bulan lamanya tidak kunjung sembuh.  Sakit itu aku rasakan ketika hendak berdiri dari duduk, ketika hendak bangun dari tidur dan saat berjalan akupun merasakan sakit. Namun rasa sakit itu tidak aku hiraukan. Aku tetap beraktifitas seperti biasa.

Suatu ketika karena sakit itu semakin menjadi jadi aku memutuskan pergi ke apotek dan kebetulan disana aku melihat timbangan berat badan. Aku mencoba menimbang berat badanku dan ternyata terjadi penurunan berat badan yang sebelumnya 56kg menjadi 48 kg.  Aku pun heran namun tidak berfikir kalau aku terkena penyakit. aku tetap meminum obat yang ternyata tidak ada efeknya karena sakit itu tidak kunjung hilang. Setelah obatnya habis dan ingin membeli obat penekan rasa sakit aku pun mencoba menimbang berat badanku lagi dan susut lagi menjadi 44kg. Saat itu  aku masih tetep tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi dengan aku.  Tak pernah terbesit dalam pikiranku kalau aku sedang mengidap penyakit TBC Tulang Belakang.

Aku sempat demam dan  keluar keringat dingin setiap malam.  Karena sakit itu tidak sembuh sembuh hingga beberapa bulan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dokter umum.  Disana aku diperiksa ruas ruas tulang belakangnya oleh dokter tersebut.  Dokter tersebut menemukan keanehan, salah satu dari ruas tulang belakang saya ternyata lebih besar dari yang lain.  Akhirnya beliau menyuruhku ke RS.  Aku tidak diberitahu ke dokter spesialis apa. Tetapi aku memutuskan sendiri karena tulang belakang mungkin hubungannya dengan dokter syaraf dan kebetulan juga di RS Kebumen tidak ada dokter ortopaedi.

Aku diperiksa dan disuruh ronsen. Setelah seminggu hasilnya pun jadi. Aku membaca hasil ronsennya dikatakan L1 dan L2 mengalami masalah. Aku sebenarnya merasa heran dengan hasil ronsen tadi, karena yang terkesan membesar dan yang sakit berada diarea torakal tapi kenapa yang bermasalah justru bagian lumbal. Aku sedikit mengerti tentang anatomi tubuh manusia karena aku seorang Lulusan Biologi Unsoed. Tapi aku tetap percaya dokter lebih tau dariku.

Dokter yang memeriksa akhirnya menyuruh MRI. Tapi aku masih menunda nunda juga karena belum menyadari sedang menderita penyakit berbahaya.  Saat itu aku sudah kesulitan ruku’ atau sujud.  Sholatpun akhirnya aku lakukan dengan tiduran. Sesekali kupaksa dengan berdiri.  Hingga suatu ketika saat aku bangun tidur di pagi hari, kakiku sulit sekali melangkah. Aku jatuh didepan kamar ketika hendak kekamar mandi. Ibuku waktu melihat kejadian itu dan merasa sangat kuatir. Aku katakan ke Ibu “ Bu, Saya kok susah berjalan ya?. Kaki saya aneh. Kadang terasa tersengat kaya kena setrum”.  Ibuku menjawab sudah diperiksakan saja ke RS.

Hari itu seharian aku lebih banyak tidur. Rasa sakit yang awalnya hanya lokal menjadi menjalar ke pinggang. Sore harinya ketika hendak sholat ashar aku merasakan sakit pinggang yang sangat.   Aku mengalami kesulitan berjalan dan harus dipapah dan saat sampai dikamar mandi aku justru tidak bisa menggerakan kaki sama sekali.  Aku memanggil manggil ibuku dan Beliau panik saat aku mengatakan “saya tidak bisa menggerakan kaki Bu?”

Akhirnya aku di gendong oleh tetangga masuk ke kamarku.  Itulah hari terakhir aku bisa berjalan, hari kamis tanggal 4 Juni 2009.  Sejak saat itu aku merasakan kaki yang terbakar hingga sekarang. Bahkan tidak sembuh setelah dioperasi sekalipun. Satu satunya perbedaan sebelum dan sesudah operasi adalah rasa sakit dipinggang yang berkurang. Sebelum operasi aku merasakan sakit yang luar biasa. Bergerak sedikit saja aku kesakitan. Saat di rongent, saat hendak di MRI aku selalu teriak teriak karena sakit yang teramat sangat.

2 thoughts on “Saat Aku Harus Menjadi Seorang Disabilitas Bagian 1.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *